Cara menghafal, tanpa dihafal

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Cara menghafal, yang ini saya pelajari ketika ikut kelas acting beberapa tahun lalu. Karena efektif dan membuat saya bisa menghafal, terutama surat di Al-Quran, maka saya menjadikan metode ini sebagai bagian dari kebiasaan yang saya latih.
Cara menghafal

Uniknya, bagaimana metode menghafal yang diajarkan oleh mentor saya di kelas acting itu, justru bukan dengan cara dihafalkan. Lalu apa dong ?

Berbeda dengan pada waktu saya sekolah dulu, dimana saya berusaha menghafal dengan cara – cara konvensional, seperti menghafal definisi tertentu, saya dulu membaca buku yang berisi definisi itu beberapa kali, lalu menutup bukunya dan mengucapkan kembali. Atau, saya minta tolong sama teman, untuk menguji saya. Saya akan mengucapkan kembali, teman saya yang pegang buku untuk melihat dan mencocokkan apakah yang saya ucapkan sudah benar atau belum. Dulu, saya juga menghafal dengan cara dibaca keras – keras, lalu diulang lagi, diulang lagi, sampai beberapa kali, lalu menuliskannya di sebuah buku dan mencocokkannya kemudian. Bagus juga sih cara itu, tapi nggak everlasting, nggak bertahan lama apa yang sudah saya ucapkan itu, beberapa minggu, kalau ditanya definisi itu, saya mungkin nggak bisa jawab lagi dengan kalimat yang sempurna seperti pada tulisan aslinya.

Sampai akhirnya, pada saat kelas acting itu, saya diberikan naskah, sebuah skenario monolog yang akan dipentaskan di depan panggung kelas acting tersebut. Mentor saya, hanya memberikan waktu 1 minggu, sementara yang harus dihafalkan, kurang lebih satu lembar kertas A4, deretan kalimat yang sudah diketik dengan ukuran huruf sekitar 12. Semua yang ikut kelas itu, langsung bertanya disertai keragu – raguan, bisa nggak itu untuk segera dihafalkan ? Gimana cara menghafalkannya ? Bagaimana mungkin ? dan deretan pertanyaan lain yang intinya meragukan apakah kita bisa menghafal luar kepala untuk naskah monolog itu.

Tapi jawabannya adalah, ” Nggak usah dihafalin ”
Lah nggak usah dihafalin ? Makin cenat cenut aja kita mendapatkan jawaban begitu. Lalu apa dong yang perlu kita lakukan ?

Jadi, dia cuma minta kita baca naskah itu, baca, baca, baca, sehari baca berapa kali ? kalau mau cepat nempel, baca 100 kali atau lebih, setiap hari selama 1 minggu itu, cuma baca aja.
Tiap orang beda – beda, jadi dia juga nggak bisa mastiin, perlu berapa kali baca untuk bisa nempel. Dia mengistilahkan “Nempel” karena menurut dia, makin banyak kita baca, naskah itu akan nempel di kepala kita, makin sering kita baca, apalagi dibaca dengan intonasi yang sesuai dengan karakter yang diinginkan, maka, akan makin cepat nempel. Dan kalau makin lama – makin banyak kita bacanya, maka dia akan menempel di kepala kita lebih lekat, makin nempel, makin nempel, makin nempel. Dia kasih ilustrasi, kalau kalian pas kecil dulu, yang muslim, suka diajarkan untuk baca surat – surat pendek di Al-Quran, terus kalian gunakan buat sholat, gunakan lagi, gunakan lagi, maka, surat itu akan selalu nempel sampai nanti kalian mati. Dari situlah, saya nggak pernah lagi menghafalkan, saya terus baca, baca, baca, diulang – ulang terus, hingga akhirnya dia nempel di kepala saya dan nggak mau lepas.

Mungkin bisa dicoba sama kalian, kalau saya sih sudah mencobanya ya dan menurut saya, ini cara paling efektif dalam menghafal, tapi dibuat light, ringan, seperti orang yang nggak lagi menghafal, seperti orang lagi baca aja, cuma perlu intens, luangkan waktu khusus dan gigih, pantang menyerah. Btw, kalian sendiri, punya metode apa nih buat menghafal ? Share di kolom comment ya.

Yudhi Megananda

Yudhi Megananda

Leave a Replay

Sign up for Weekly Updated

Seminggu satu kali, akan ada updated yang dikirim via email kalian