Mengatasi Pandemi, Melihat Secara Berbeda

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Mengatasi pandemi, bukan maksudnya bagaimana mengatasi penyakit yang ditimbulkan dari virusnya yang sudah datang. Tapi bagaimana mengatasi kondisi emosi dan kejiwaan kita, bagaimana kita mengatasi kekhawatiran dan ketakutan pada masa - masa mendatang yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Hal sederhana yang bisa merubah semua tindakan kita dalam menghadapi covid 19 ini.
mengatasi pandemi

Mengatasi pandemi dalam konteks emosional dan kejiwaan yang mungkin terguncang dengan banyaknya dampak yang ditimbulkan dan memberi pengaruh besar untuk kehidupan kita, barangkali merupakan hal yang diperlukan bagi banyak orang di tengah situasi seperti saat ini. Kecuali seorang remaja berusia 14 tahun asal India yang sudah memprediksikan hal ini terjadi pada bulan November 2019 lalu, kita nggak memprediksi pandemi bakal terjadi dan mengguncang banyak aspek dalam kehidupan normal kita. Tapi sekarang, kenyataan yang terjadi dan sudah terjadi adalah, pandemi ini datang, virus ini bisa menyerang siapa saja yang tidak bisa menjaga dirinya dan bisa ditulari dari siapa saja, termasuk dari orang – orang terdekat dalam kehidupan kita.

Dampak yang ditimbulkan ada banyak, mulai dari perekonomian, pendidikan hingga aspek emosional / kejiwaan yang menghinggapi manusia. Bahayanya, kalau sudah mempengaruhi emosional dan kejiwaan dan kita sebagai manusia nggak bisa mengontrolnya, bisa stress, gila bahkan bisa bunuh diri. Bukan hiperbola, tapi itu adalah kemungkinan yang terburuk, yang bisa menimpa kita bahkan orang – orang terdekat kita. Ini waktunya kita menggali jauh ke dalam diri kita sendiri, menggali sisi emosional dan kejiwaan kita, akibat kedatangan virus ini. Dan itu bisa diawali dengan melihat pandemi ini dari sudut pandang yang berbeda.

Dengan merubah sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang melihat, ternyata, ada banyak hal – hal yang bisa kita pelajari dan membuat kondisi emosional dan kejiwaan terasa damai.

Maksudnya gimana ?

Begini maksudnya, semua orang menghadapi pandemi, saya ilustrasikan ada dua orang yaitu Budi dan Devi. Budi dan Devi, keduanya sama – sama bekerja di perusahaan berskala menengah, Budi bekerja di perusahaan Event Organizer dan Devi bekerja di sebuah perusahaan Travel Agent. Budi dan Devi sama – sama mengalami dampak karena pandemi ini, mereka nggak menerima gaji dari perusahaannya dan nggak kerja sementara sampai waktu yang ditentukan.

Tapi cara mereka melihat pandemi ini berbeda. Budi melihat bahwa pandemi ini adalah bentuk ketidakbecusan pemerintah, ketidakbecusan dunia dan organisasi WHO dalam menangani wabah ini, akibatnya perekomian melesu, Budi nggak dapat penghasilan dan akhirnya di rumah saja, dengan penghasilan yang berhenti dan menggunakan tabungan untuk hidup sehari – hari, yang makin lama makin menipis. Selama ada di rumah, Budi jadi temperamen, ia kerap menyalahkan Presiden, Gubernur dan pejabat – pejabat lain dengan semua kebijakan yang mereka buat untuk mencegah penularan virus ini menjadi lebih luas. Budi melihat – lihat sosial media, dimana ia juga melihat berita, dimana banyak diberitakan, perusahaan – perusahaan besar terpaksa merumahkan karyawannya, bahkan ada yang gulung tikar. Budi melihat pandemi ini sebagai salahnya orang lain dan Budi juga melihat, bahwa perusahaan besar banyak yang bangkrut, jadi tertutup kemungkinan untuk ia memulai sebuah usaha baru. Di kepalanya, perusahaan yang besar saja tutup, gimana saya yang baru mau mulai usaha ? Dia pun sibuk mencari berita, kapan pandemi ini akan berakhir, agar ia segera bisa bekerja dan menghasilkan lagi. Tapi nggak tahu kapan, tabungannya mulai habis dan dia mulai mencari pinjaman dari sanak saudaranya.

Devi juga mengalami peristiwa yang sama, namun berbeda dengan Budi, Devi melihatnya bahwa pandemi ini adalah saat untuk dia introspeksi diri, saat untuk melihat ke dalam diri sendiri, hal – hal apa saja yang sudah dia lakukan selama ini, sehingga tabungan yang dia punya jumlahnya hanya segitu ? mungkin hanya cukup untuk bertahan hidup 2 bulan lagi, kalau nggak ada pemasukan lain. Dia melihat berita dimana Presiden, Gubernur dan pejabat berwenang lainnya, membuat banyak kebijakan, dia lalu berpikir, dengan kebijakan tersebut, apa yang bisa dilakukan banyak orang, termasuk dirinya untuk bisa segera menghasilkan ? Devi melihat – lihat sosial media, dia lihat ada teman – temannya yang bikin kelas online, dia ikutan kelasnya, dan ia berpikir, barangkali dia juga bisa membuat kelas seperti itu dengan semua pengalaman yang sudah dia punya. Tunggu dulu, Devi juga sempat melihat berita tentang banyaknya perusahaan yang terpaksa gulung tikar, tapi dia memilih untuk mengabaikannya, dia paham, bahwa industri – industri yang berpengaruh dengan pengumpulan massa, transportasi dan travel, pasti akan mengalami kondisi seperti itu kalau nggak cukup kuat modalnya. Devi nggak mau menunggu kapan pandemi ini selesai, dan dia memilih melanjutkan hidup dengan pandemi ini, menjaga kesehatan mengikuti protokoler kesehatan dan melakukan kegiatan baru yang bisa menghasilkan dengan memanfaatkan sisa tabungannya.

Satu peristiwa yang sama, tapi karena melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda, maka hasilnya akan berbeda! Kalau saya kasih persamaan, dua orang yang menghadapi peristiwa yang sama, tapi, cara mereka memberikan arti pada peristiwa yang sama itu, membuat hasil yang berbeda.

Kalau kamu, mau pilih yang mana ?

Sama – sama latihan yuk, untuk mulai melihat pandemi ini dengan sudut pandang yang berbeda, sudut pandang yang memperkuat emosional dan kejiwaan kita agar kita merasa tenang, jadi kalau tenang, kita juga bisa berpikir jernih dan mendapatkan banyak ide untuk bisa menjalankan hidup dengan semua yang sudah kita punya.

Yudhi Megananda

Yudhi Megananda

Leave a Replay

Sign up for Weekly Updated

Seminggu satu kali, akan ada updated yang dikirim via email kalian