Bisnis Hiburan, Masih ada peluang di masa pandemi ?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Bisnis hiburan, apakah masih ada kans untuk bertumbuh selama masa pandemi ini ? Masihkah berpeluangkah untuk mencetak profit dari bisnis ini saat pandemi, atau setelah vaksinasi selesai dilakukan ?
bisnis hiburan saat pandemi

Bisnis hiburan, menjadi salah satu industri yang terpukul dengan adanya pandemi. Hampir semua jenis bisnis, yang masuk dalam bidang bisnis hiburan yang service-nya dilakukan secara langsung / tatap muka, merata, terkena dampak! Berbeda dengan yang pelayanan produknya memang diantarkan dengan sistem digital. Hampir semua yang offline, terdampak akibat pandemi ini, karena ada pembatasan, membuat mereka yang ingin menikmati hiburan, menjadi tidak mungkin untuk melakukannya. Kalau pun mungkin, secara psikologis, kebanyakan orang juga merasa khawatir, barangkali di pikirannya adalah, “daripada menikmati hiburan, tapi beresiko terpapar virus, lebih baik di rumah saja!”

Pusat perbelanjaan modern atau kita sering sebut dengan mall, saat kondisi normal dulu, menjadi salah satu tempat yang biasa dikunjungi banyak orang khususnya selama weekend, dan selama pandemi ini, bisa kelihatan kok, secara kuantitas pengunjung-nya mengalami penurunan. Yang lebih terlihat, tentu saja mall yang berlokasi di Jakarta, sementara yang di pinggiran Jakarta, menurun juga kuantitas pengunjungnya, tapi sudah mulai ada pergerakan, sudah mulai ada peningkatan jumlah pengunjung. Tapi pengelola mall, juga masih wait and see, masih belum berani melakukan hal – hal yang related dengan hiburan khususnya yang mengumpulkan massa. Ingat pas imlek kemaren, ada yang buat keramaian dengan menghadirkan pertunjukan barongsai dan menjadi pemberitaan, langsung kena semprit sama Satgas Covid.

Kondisi nggak berbeda juga dialami oleh bioskop, mereka yang juga berlokasi di mall, sudah boleh beroperasional, namun masih belum bisa mendapatkan jumlah penonton setengah dari kapasitasnya di saat – saat ini. Tapi nggak mau menyerah, karyawannya di XXI misalnya, mereka aktif dengan melakukan beragam kegiatan yang intinya mengundang orang – orang untuk kembali masuk ke dalam bioskop dan menikmati film. Mencegat di bagian pintu masuk mall dengan beragam promosi, sekaligus meyakinkan, bahwa kondisi bioskop sudah steril, sudah dibersihkan, sudah dilakukan penyemprotan disinfektan, sudah mengikuti protokol kesehatan dan seterusnya. Tapi masih sama dengan pengunjung mall, masih berpikir bahwa, “daripada menikmati hiburan, tapi beresiko terpapar virus, lebih baik di rumah saja!” Hal yang sama juga dengan tempat – tempat karaoke, massage dan spa, gedung pertemuan, convention hall, hingga obyek wisata yang akhirnya juga berpengaruh pada usaha transportasi, biro perjalanan, event organizer, exhibition organizer dan turunannya.

Bisnis hiburan, dimasa sekarang ini, kondisinya sangat menantang untuk tetap bisa mencetak profit, jadi kebanyakan fokusnya pada bagaimana untuk bisa bertahan, survive dulu lah! Kalau mau tetap bisa profit, perlu dipikirkan tentang bagaimana solusi, mengatasi rasa takut, mengatasi keragu – raguan orang untuk datang. Atau, dengan merubah bagaimana mekanisme-nya untuk tetap bisa melayani pelanggannya. Contoh sederhana, seperti yang dilakukan biro perjalanan Anta Vaya dan Dwi Daya yang membuat Virtual Tour ke banyak destinasi wisata di mancanegara dengan biaya relatif murah. Atau teman – teman dari asosiasi tour guide yang juga mengadakan virtual tour untuk destinasi wisata lokal, seperti Jakarta City Tour. Nggak bisa profit dari situ ? Iya, belum bisa profit, tapi salah satu mekanisme bagus untuk mendapatkan penghasilan, untuk survive ya! Dan satu lagi, yang bagusnya adalah mereka mendapatkan database orang – orang yang ikut dalam virtual tour, yang bisa mereka profilling lebih detail lagi, sehingga ke depannya, saat kondisi sudah normal, mereka bisa masuk menjadi leads yang akan ditawarkan tour sungguhan.

Saat vaksinasi mulai dilakukan, PPKM berskala mikro sudah dijalankan, industri hiburan bisa mulai pelan – pelan beroperasi tentu saja dengan penyesuaian sesuai protokol kesehatan. Kalau bicara protokol kesehatan, pastinya akan ada pengurangan volume penjualan, karena ada pembatasan untuk jumlah partisipan, tapi ini sudah cukup bagus untuk bertahan dan menyiapkan langkah berikutnya. Kalau ada saran buat teman – teman yang bisnis hiburan, supaya bisa bertahan dan perlahan menyiapkan diri menghadapi kondisi pembatasan yang pelan – pelan mulai dilonggarkan, sarannya adalah : pikirkan hal – hal baru dalam melayani pelanggan, brainstorming dan mulai bersinergi dengan pihak lain, jajaki kerjasama dengan pihak lain, termasuk kompetitor dan mulai lakukan segera.

Jika teman – teman di industri hiburan, butuh teman untuk brainstorming atau membantu mengeksekusi ide – idenya, saya bersama beberapa orang teman bisa membantu dengan memberikan jasa konsultasi bisnis hiburan, supaya bisa tetap jalan, bertahan sambil menyiapkan ide – ide segar di masa pelonggaran dan masa setelah vaksinasi nantinya. Bisa hubungi team saya yang fokus pada hal ini, dengan klik di konsultan bisnis hiburan. Semoga membantu dan tetap semangat!

Yudhi Megananda

Yudhi Megananda

Leave a Replay

Sign up for Weekly Updated

Seminggu satu kali, akan ada updated yang dikirim via email kalian