Definisi kekayaan, mungkin perlu ditinjau ulang ?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Saat melihat tab explore di instagram, saya melihat sebuah video seorang gadis yang sedang mencicipi mie ayam seharga 400 juta, beberapa hari kemudian, ada video lain yang menggambarkan seseorang yang berangkat ke Turki, hanya untuk membeli kebab. Seperti itu nggak sih, gaya hidup yang mendefisinikan kayanya kamu ? Saya jadi ingat kisah saya, saat terinspirasi dari satu orang, yang akhirnya membuat saya mengartikan ulang tentang definisi kekayaan. Mungkin, ini juga waktunya kamu mendefinisikan ulang apa itu kekayaan buat kamu ?
definisi kekayaan

Setiap orang memiliki definisinya masing – masing tentang kekayaan, meskipun ada kesepakatan bersama yang disetujui sebagai standard baku tentang apa definisi kekayaan, tapi hal itu jadi nggak berlaku ketika masuk ke dalam ranah privasi. Setiap orang memang punya definisinya masing – masing tentang kekayaan, kebanyakan hal – hal yang bersifat material yang selalu dikaitkan dengan uang. Kemewahan dalam gaya hidup seseorang, itulah simbol yang terlihat dan diartikan sebagai kekayaan. Itu juga cara saya memaknai kekayaan, uang banyak, rumah dan mobil mewah, tampilan yang kece, gaya hidup glamour dengan banyak barang bermerk dan seterusnya. Tapi ada satu kejadian yang nggak sengaja, yang akhirnya memberikan defisini baru tentang kekayaan buat saya.

Kejadian itu terjadi, saat saya masih bekerja di sebuah perusahaan konser promotor internasional, sekitar awal tahun 2000-an. Perusahaan tempat saya bekerja, kembali akan menggelar sebuah pertunjukan, menghadirkan artist mancanegara yang akan dipentaskan di Jakarta Convention Centre. Singkatnya, untuk membiayai konser tersebut, dibutuhkan dana sekitar 3 Miliar Rupiah. Untuk membiayai proyek tersebut, perusahaan biasanya mencari investor, dan kunjungan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan untuk bertemu dan mempresentasikan proyek ini ke calon investor. Dalam bayangan saya, investor yang akan membiayai proyek ini adalah orang kaya dengan semua kemewahan yang ada dalam bayangan saya, seperti definisi saya tentang kekayaan yang semuanya identik dengan simbol itu. Tapi ternyata, orang yang datang adalah seorang paruh baya, berpakaian santai, malah mengenakan kain sarung, berkopiah, menggunakan sendal, pokoknya jauh dari bayangan saya selama ini. Saya berpikir, mungkin ini adalah anak buahnya, atau perantara yang akan menghubungkan kami dengan sang investor. Ternyata salah! Dialah investornya! Dialah orang yang akan membiayai proyek konser bernilai 3 Miliar Rupiah itu. Sekedar info, uang senilai tersebut, nilainya besar sekali ya di era awal 2000-an.Apalagi untuk sebuah project pertunjukan, sebuah konser, yang tentu saja, keuntungannya belum jelas dan kalau bicara pasti, ini nggak ada kepastian, jadi ada resikonya juga! Resiko terburuknya adalah konsernya rugi, uang dia bisa nggak balik semuanya.

Tapi, kecintaannya pada musik, jadi alasan utama. Selain itu, tentu saja, karena dia punya uangnya. Jadi saya waktu itu, merasa amaze, ada ya orang yang punya banyak duit, kaya luar biasa, tapi nggak terlihat kaya sama sekali, malah cenderung biasa saja. Mobil yang dia gunakan pada waktu itu pun, hanya mobil kijang.

Dari pertemuan itulah, kami jadi sering ketemu, apalagi setelah konsernya memang dia biayai, dari situlah perlahan, saya melihat hal – hal lain yang bernilai, termasuk begitu banyaknya manfaat yang dia berikan untuk orang lain dengan kekayaan yang dia miliki. Saya mulai mendefinisikan ulang mengenai apa itu tujuan yang sebenarnya dari keinginan saya untuk menjadi kaya.

Bukan tentang tampilan atau gaya hidup yang mewah, tapi ini tentang membuat dampak, berkah dan manfaat bagi banyak orang. Bukan terlihat kaya, tapi menjadi kaya dari arti sesungguhnya, yaitu menikmati gaya hidup yang diinginkan, gaya hidup sederhana yang tidak berlebihan, membuat uang yang bekerja sehingga dari hasil itulah biaya gaya hidup sederhana itu dibiayai, serta memberikan dampak dan manfaat bagi banyak orang. Sejak itu, saya nggak pernah lagi memberikan judgement tentang kekayaan orang lain dari sekedar melihat penampilannya. So, jangan ketipu sama penampilan dan fokus sama tujuan kita mencapai definisi kekayaan versi kita sendiri.

Yudhi Megananda

Yudhi Megananda

Leave a Replay

Sign up for Weekly Updated

Seminggu satu kali, akan ada updated yang dikirim via email kalian