Arti Kaya, dari orang kampung yang sederhana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Variasi dari arti kaya, yang semakin banyak saya dapatkan dari sudut pandang orang lain, jadi membuat saya belajar. Serunya lagi, arti kaya yang satu ini, berbeda dengan arti kaya yang mungkin sudah familiar kita lihat dari kebanyakan orang. Dari seorang petani di sebuah desa kecil di kawasan Bandar Lampung. Kamu mungkin akan berat menjalani hal yang sama!
arti kaya

Arti kaya, buat satu orang dengan satu orang lainnya, pasti berbeda. Kebanyakan memang definisi kekayaan dikaitkan dengan gaya hidup berkecukupan bahkan cenderung mewah, semuanya related sama simbol – simbol kemewahan, yang sebenarnya merupakan sebuah kerja sistematis dari banyak merk produk premium agar produk mereka bisa terjual. Sepakat nggak dengan pemikiran itu ? Sepakat nggak sih bahwa kaya itu memang disimbolkan melalui barang – barang bermerk dan berharga mahal ? Apakah dengan memiliki merk mobil tertentu, seseorang bisa dikategorikan sebagai orang kaya ? Ganti barang yang lama dengan barang yang bermerk dan berharga mahal, adalah kebiasaan orang kaya ? Bagaimana kalau kaya itu, sesuatu yang tidak terlihat hanya di permukaan saja, yang terlihat adalah sebuah gaya hidup sederhana, nggak neko – neko, tapi pemasukannya datang dengan sendirinya ? Yang mana yang lebih condong sebagai arti kaya buat anda ?

Pengalaman saya puluhan tahun silam, membuat saya jadi belajar untuk memberikan arti kaya dalam perspektif yang berbeda. Cerita ini diawali saat saya masih duduk di sekolah dasar, karena ayah saya bekerja sebagai kontraktor yang kerap membangun pabrik besar, saya kerap pindah – pindah kota sesuai dengan dimana kota proyek pembangunan ayah saya. Nah, pada waktu itu, Desa Sukarame, Bandar Lampung menjadi tempat tinggal sementara kami sekeluarga. Rumah besar yang kami tempati berada di kawasan pedesaan yang asri, masih banyak rumput hijau dengan pepohonan besar disana. Jarak antar rumah satu dengan yang lainnya, masih agak jauh. Ada beberapa tetangga yang saya kenal, salah satunya adalah Mbah Kendam. Orang tua yang sehari – harinya bekerja sebagai petani, tiap hari dia pasti akan menuju ke sawahnya, kadang ke kebon singkong sambil membawa beberapa ekor kerbau.

Singkat cerita, setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, sepulang sekolah, saya sering berjalan ke area persawahan dan duduk melihat Mbah Kendam ini. Sehari – hari, makan siangnya di rantang, yang dibawakan istrinya, kadang saya juga ikutan makan, kadang dia manjat pohon kelapa, mengambil buahnya, kita sama – sama minum air kelapa. Nanti sore – sore, dia kadang ada di kebon singkongnya, merapikan beberapa tanaman liar, memandikan kerbau-nya, lalu pulang dan saya mengikutinya sambil memegang tali membawa kerbau.

Seringnya berbincang dengan dia, memberikan saya pemahaman, bahwa orang tua ini, punya hidup yang terencana. Dari cerita hidup yang terencana inilah, arti kaya, yang membuat saya jadi belajar. Bertanggung Jawab. Dia punya banyak banget hal yang bisa disalahkan kalau dia mau menyalahkan, orang tua-nya bukan orang kaya, orang tuanya nggak pernah sekolah, bahkan Mbah Kendam sendiri hanya disekolahkan sampai SD dan nggak berlanjut. Orang tua-nya juga nggak meninggalkan warisan, uang yang banyak atau tanah berlimpah, tapi hanya meninggalkan rumah yang sekarang dia tempati, seekor kerbau, 2 ekor kambing dan beberapa ayam di halaman belakang rumah. Tapi, dia memilih untuk nggak menyalahkan dan mengambil tanggung jawab untuk melanjutkan semua yang sudah diberikan oleh orang tuanya. Ini bagian pentingnya!

Rencana Kaya. Sejak ayahnya meninggal yang disusul ibunya sekitar 3 tahun kemudian, Mbah Kendam menjadi anak pertama dan tulang punggung bagi 4 orang adik perempuannya. Yang ia lakukan, selain mengurusi semua ternak peninggalan orang tua-nya, ia bekerja mengelola sawah dan kebon orang lain. Ia dipekerjakan untuk mengelola hamparan sawah yang luas bersama dengan beberapa anak muda di kampung itu sampai beberapa tahun, termasuk menjaga sebidang tanah luas milik perusahaan pengembang dan memanfaatkannya untuk ditanami tanaman yang bisa dijual, seperti singkong, ubi rambat dan sejenisnya. Dari hasil mengelola sawah, ia mendapatkan bayaran berupa uang hingga masa-nya panen. Sementara, dari hasil menjaga tanah, ia dibayar setiap bulan beberapa puluh ribu, namun, tambahannya adalah, semua hasil penjualan komoditas yang dia tanam di lahan tersebut, semuanya bisa dipergunakan. Akhirnya, dari hasil mengumpulkan sedikit demi sedikit, si Mbah ini membeli sebidang tanah dan dibangunlah rumah, ini adalah rumah pertama miliknya sendiri, bukan hasil warisan dari orang tua. Sejak itulah, ia jadi punya tekad untuk bisa membeli lagi tanah yang lain, cerita dia dulu, ia ingin adik – adik perempuannya juga punya tanah dan rumah masing – masing, sehingga bisa dibangun rumah lagi, 5 tahun kemudian, berhasil terbeli 1 tanah lagi dan jadilah rumah kedua miliknya, dan rumah itulah yang disewakan kepada orang tua saya. Nggak jadi dikasih ke adiknya, karena adiknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, malah jadi pemasukan setiap tahun buat adiknya.

Pengulangan pola itu, dilakukannya selama lebih dari 30-an tahun, yang membuatnya memiliki 8 bidang tanah, yang setiap tanah, rata – rata memiliki luas sekitar 600 meter, sudah ada 3 yang dibangun rumah dan sisanya masih berupa tanah yang dia kelola untuk dijadikan kebon yang juga memberikan hasil saat panen. Kisah ini terjadi pada era 1980an, saat dimana masih sedikit orang yang membicarakan mengenai arti kekayaan, seseorang yang sederhana, minim pendidikan, malah sudah melakukannya! Gaya hidupnya nggak berubah, makannya tetap sederhana, rumahnya pun rumah yang sederhana, layak ditinggali tapi nggak ada kesan mewah, kendaraannya pun hanya sepeda ontel, setiap hari melakukan aktivitas bertani, berkebun, sebelum maghrib sudah pulang, waktunya sholat maghrib sudah ada di Musholla sampai Isya, lalu makan malam bareng dan ngobrol sama keluarga, kadang ngobrol sama tetangga, nggak pernah pergi jalan – jalan wisata. Satu – satunya hiburan buat dia adalah saat ada tetangga atau saudara yang hajatan, atau saat malam takbir dan perayaan tahun baru dengan bakar singkong atau jagung di belakang rumahnya. Sangat konsisten!

Tanpa dia sadari, dia sudah menanamkan etos kerja dan arti kaya yang luar biasa, buat anak – anaknya, juga buat orang – orang yang terinpirasi dari perjalanan hidupnya, seperti saya. Saya menuliskan ini, sembari mengingat, apa lagi ya yang bisa saya contoh dari dia dan bisa saya jadikan pelajaran ? Rasanya nggak ada lagi, selain tentang kesederhanaan gaya hidup, konsisten menjalani bidang yang di cintai, dan fokus sama tujuannya. Arti kaya buat dia, bukan perubahan gaya hidup, tapi bagaimana membuat uang bekerja untuknya, bekerja dalam diam, bekerja secara perlahan, namun memberikan hasil berkepanjangan. Mungkin ini waktunya untuk kita mengartikan ulang, apa sebenarnya arti kaya buat diri kita ? Karena nggak harus dengan gaya hidup mewah, kalau memang tujuannya mau jadi kaya, bukan terlihat kaya!

Yudhi Megananda

Yudhi Megananda

Leave a Replay

Sign up for Weekly Updated

Seminggu satu kali, akan ada updated yang dikirim via email kalian